
Badan Riset dan Inovasi Nasional
07-11-2022
12-08-2024
2d753268-212c-4de4-8fdb-cf69c924d2f6
INFORMASI: Data berikut ini masih dalam proses pemenuhan Prinsip SDI.
Belajar Dari Cuba Dalam Memanfaatkan Potensi Sumber Daya Alam Bijih Nikel Laterit Terutama Untuk Laterit Kadar Rendah
Berdasarkan data tahun 2009, Indonesia dan Cuba masuk dalam katagori sepuluh besar negara yang memiliki sumber daya alam bijih nikel dan produsen nikel maupun kobal. Persamaan antara Indonesia dan Cuba memiliki sumber daya bijih nikel oksida yang lazim disebut laterit. Perbedaannya, Indonesia masuk dalam katagori sepuluh besar negara produsen nikel maupun kobal sebagian besar dari ekspor bahan baku laterit. Sedangkan Cuba mengekspor produk olahan laterit berupa NiO dan NiS. Dimana pada tahun 2007, ekspor tersebut menghasilkan devisa ± US $ 2 milyar dan berkontribusi hampir 50 persen nilai ekspor Cuba.Dengan terbitnya UU Minerba 2009 yang wajib mengolah bahan baku mineral didalam negeri serta melarang ekspor mulai 2014. Maka dibuat tulisan dengan judul diatas karena Indonesia baru mengolah laterit kadar tinggi jenis saprolit dengan kadar Ni ≥ 1,8 persen di Sulawesi Tenggara. Saprolit tersebut diolah menjadi FeNi di Pomalaa oleh BUMN PT Aneka Tambang, dan Ni matte di Soroako oleh PMA PT Vale Indonesia. Dimana FeNi dan Ni matte diekspor ke manca negara. Sedangkan laterit kadar rendah yang terdiri dari limonit dan saprolit dengan kadar Ni < 1,8 persen belum dimanfaatkan optimal, lebih banyak diekspor terutama ke China. Kata Kunci : UU Minerba, laterit kadar rendah, limonit, saprolit, N i< 1,8 persen. Seminar Material Metalurgi 2014
Data and Resources
Belajar Dari Cuba Dalam Memanfaatkan Potensi Sumber Daya Alam Bijih Ni...
Berdasarkan data tahun 2009, Indonesia dan Cuba masuk dalam katagori s...
