Screenshot 2016-08-11 at 2.20.49 PM

Salah satu keunikan Indonesia yang tak dimiliki negara lain adalah keanekaragaman suku yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sedikitnya terdapat 633 kelompok suku besar di Indonesia pada tahun 2013. Jika diperinci hingga tingkat subsuku, angka ini membesar menjadi 1331 kelompok. Setiap kelompok suku memiliki artifak budayanya masing-masing sehingga kondisi ini berdampak pada keragaman budaya yang tersebar di seluruh Indonesia.

Jika tidak dikelola dengan baik, kekayaan budaya Indonesia ini berpotensi hilang tergerus zaman. Ancaman pengklaiman aset budaya oleh pihak lain pun kerap mengintai. Menyadari hal ini, Satu Data Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) berupaya meningkatkan kualitas data pemerintah di bidang seni dan budaya. Saat ini, Kemdikbud sedang menyusun satu basis data kebudayaan yang difokuskan pada data cagar budaya, museum, dan sanggar di Indonesia. Integrasi dari data cagar budaya dan museum ini dapat dilihat di portal Museum Kita (http://referensi.data.kemdikbud.go.id/museum).

Screenshot 2016-08-11 at 2.20.49 PM
Tampilan portal Museum Kita milik Kemdikbud.

 

Di portal ini, data cagar budaya dan museum diintegrasikan pula dengan data sekolah sehingga masyarakat dapat langsung mengetahui letak cagar budaya dan museum terdekat dari sebuah sekolah. Langkah ini akan memudahkan para siswa dan guru untuk melakukan kunjungan ke situs-situs kebudayaan. Ke depannya, portal ini juga akan diintegrasikan dengan data sanggar untuk mempermudah pengembangan bakat seni pelajar Indonesia.

Namun, berbeda dengan pendataan cagar budaya dan museum yang telah memiliki sistem registrasi baku, pendataan sanggar akan dilakukan dengan pendekatan berbeda. Satu Data Indonesia dan Kemdikbud akan menerapkan sebuah model baru yang mendorong keterlibatan publik. Dalam model yang disebut data-crowdsourcing ini, pemerintah akan menyediakan wadah bagi masyarakat untuk berkontribusi membantu percepatan pengumpulan data kebudayaan. Mekanismenya, Kemdikbud akan mempublikasikan dataset berformat Application Programming Interface (API) yang berisi panduan referensi dan metadata yang dapat diisi dengan data milik masyarakat. Demi menjamin kualitas data yang dikumpulkan dari masyarakat, Kemdikbud tetap akan melakukan verifikasi dan validasi data.

Mekanisme data-crowdsourcing di bidang seni budaya ini akan diaplikasikan dalam Asia Open Data Hackathon 2016. Dalam kompetisi ini, pengembang aplikasi, data scientist, dan pemerhati seni dan budaya Indonesia dapat berkolaborasi menciptakan solusi untuk membantu meningkatkan kualitas data seni dan budaya di Indonesia. Aplikasi yang lahir dari kompetisi ini pun nantinya dapat menjadi referensi pemerintah dalam upaya pelestarian seni dan budaya Indonesia dengan berbasis data.

Mewakili Data Science Indonesia selaku penyelenggara Asia Open Data Hackathon, Fajar Pahrul Jaman mengungkapkan DSI yang memiliki tujuan membangun ekosistem inovasi berbasis data berusaha mendukung gerakan open data di Indonesia, salah satunya dengan menyelenggarakan acara ini bekerjasama dengan perwakilan dari negara Thailand dan Taiwan, serta dalam pelaksanaannya di Indonesia dibantu oleh banyak organisasi, termasuk Satu Data Indonesia.

“Kami berharap event ini dapat mendorong gerakan open data melalui pemanfaatan data terbuka dari pemerintah dan komunitas serta memperkaya data baru melalui mekanisme data-crowdsourcing yang kami percaya mampu membuat pengarsipan data seni dan budaya Indonesia menjadi lebih baik,” tutur pria lulusan Universitas Padjajaran ini.

Mekanisme data-crowdsourcing ini sejalan dengan kerangka strategi Kemendikbud mengenai pelibatan publik. Dalam PP Nomor 66 Tahun 2015 tentang Museum misalnya, diatur mengenai peran serta masyarakat dalam pelestarian museum. Pada pasal 52 disebutkan, setiap orang dan/atau Masyarakat Hukum Adat dapat berperan serta membantu pengelolaan museum sebagai wujud peran serta masyarakat terhadap pelindungan, pengembangan, dan/atau pemanfaatan museum. Peran serta masyarakat dalam membantu Pengelolaan Museum tersebut dilakukan berdasarkan asas transparansi dan akuntabilitas.

Ke depannya, Satu Data Indonesia juga berencana menerapkan mekanisme data-crowdsourcing ini untuk mengumpulkan data di tema-tema lain. Dengan strategi ini, diharapkan data pemerintah semakin lengkap dan berkualitas.

 

Referensi:

Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kemdikbud. (2015). Kegiatan Tahun 2015 & Rencana Kegiatan Tahun 2016. Diakses dari http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/2015/04/Paparan-Dit.-PCBM-di-Rakor-2015-new.pdf pada 1 Agustus 2016.

 

Kemdikbud. (2016). Peraturan Pemerintah tentang Museum Cantumkan Pelibatan Publik. Diakses dari http://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2016/02/peraturan-pemerintah-tentang-museum-cantumkan-pelibatan-publik  pada 1 Agustus 2016.

 


One Response to “Memajukan Kebudayaan Indonesia dengan Satu Data: Saatnya Berpartisipasi!”

  1. Jasa Bikin Website

    Bagus sekali portalnya, museum di indonesia memang perlu diperhatikan.

    Reply

Leave a Reply

Captcha *